
Pagi itu Sungai Indragiri tampak seperti lebih panas daripada biasa. Lalu lintas orang beraktivitas dan berangkat kerja meramaikan sungai yang berada di hadapan kami. Pompong yang memuat kelapa bulat melewati sungai. Meski kudengar, harga kelapa memang agak murah akhir-akhir ini.
Aku dan Ahmad duduk di bangku plastik sederhana di sebuah warung di tepi sungai. Di depan kami, air berwarna kecokelatan khas sungai indragiri mengalir perlahan. Di kejauhan sebuah ponton pengisi bahan bakar terapung diam, sementara beberapa pompong dan sampan kecil sesekali melintas, memecah permukaan air dengan riak-riak kecil.
Aku menata bungkusan nasi kuning dan beberapa gelas teh es di atas meja plastik yang warnanya pudar.
“Yuk kita makan,” kataku sambil membuka bungkusnya.
Ahmad, anak laki-lakiku yang baru berusia tiga belas tahun, mengangguk pelan. Rambutnya sedikit berantakan karena angin sungai. Beberapa pekan sejak liburan pondok pesantren, ia belum memotong rambutnya. Ekspresi kantuknya masih dominan. Semalam dia tidur lebih larut dari biasanya.
“Ayah jadi berangkat lebih pagi?” tanyanya.
“Iya. Ada urusan kantor.” Jawabku sambil menggendong si bungsu yang masih tidur di pangkuanku. Tadi sewaktu kami pergi, dia masih tidur
Suamiku memang sering berangkat lebih dulu. Kadang bahkan sebelum anak-anak pergi ke sekolah. Namun setiap kali pulang, dua adik perempuan Ahmad selalu berlari antusias menyambutnya seolah sudah lama tak bertemu, apalagi si bungsu. Senyumnya selalu terkembang natural.
Shafa, anak kedua kami yang baru kelas dua SD, biasanya akan langsung melakukan interview kepada ayahnya. “Ayah dari mana?” Pertanyaan rutin dari Shafa yang selalu dijawab dengan senyum oleh ayahnya.
Sedangkan Una yang baru dua setengah tahun punya kebiasaan lucu. Dia selalu berlari kencang, sambil menebar senyum ketika ayahnya datang. Dengan langkah kecilnya, ia berjalan sambil menggerakkan seluruh bagian badan sambil membawa barang acak : kadang sendok, kadang potongan mainan kecil bahkan barang apa saja yang dilihatnya.
Tadi pagi saat aku bersiap mengajak Ahmad keluar, Shafa sempat ingin ikut.
“Kakak mau ikut, bunda” katanya sambil menarik ujung bajuku.
Tapi kalau membawa Shafa, sarapan kami mungkin berubah menjadi kehebohan. Padahal hari ini, aku ingin berdiskusi dengan si sulung sebelum lusa diantar ayahnya ke Pondok. Jadi Shafa kutinggalkan di rumah dengan kakek.
“Kita sarapan keluar ya hari ni, nak” kataku waktu itu pada Ahmad.
Ia hanya mengangguk, meski aku tahu diam-diam dia senang. Anak laki-laki memang kadang aneh. Sudah mulai besar, tapi sesekali masih suka hal-hal kecil seperti menghabiskan waktu berdua dengan ibunya.
Di seberang sungai, sebuah pompong kecil melintas membawa tiga orang. Salah satu dari mereka mengangkat tangan kepada seseorang di tepian seperti memberi salam kepada orang yang dikenalnya
“Abang !!” sapaku padanya.
Sejak dia punya adik, kami selalu memanggilnya dengan sebutan abang.
“Hm?”
“Abang pernah merasa marah dengan kawan abang?” tanyaku sambil mulai menata makanan yang ada didepanku.
Ahmad mengunyah pelan.
“Pernah.” jawabnya agak lambat sambil menunggu kunyahannya selesai.
“Sama siapa?” seilidikku penasaran khas emak-emak.
Dia diam, seperti ingin merasahasiakan sesuatu. Aku memahami ini. Meskipun dalam banyak hal dia terbuka padaku, namun ada detail-detail yang tetap ingin dia sembunyikan.
“Kenapa abang marah dengan dia?” tanyaku.
Dia tersenyum kecil.
“Kok bunda tahu?”
Aku ikut tersenyum.
“Bunda juga pernah seusia abang.” ujarku sambil tersenyum.
Dia tertawa kecil.
Beberapa saat kami hanya mendengar suara mesin pompong yang semakin menjauh.
“Abang kesal sama dia,” katanya pelan. “Awalnya dia baik. Terus sekarang suka ngejek abang. Kemarin abang juga dengar dia jelek-jelekkan abang di depan kawan abang yang lain.”
Aku menatap wajah anakku.
Entah sejak kapan pipinya mulai tembem. Suaranya juga mulai berubah. Kadang berat, kadang kembali seperti anak kecil. Kulitnya juga mulai gelap. Katanya sih dampak main bola di sore hari.
Aku mengaduk teh es yang kami pesan.
“Ahmad, sudut pandang kita, kadang menyimpulkan hidup itu aneh.”
“Aneh?”
“Iya.”
Aku menatap sungai di depan.
“Kadang hidup mempertemukan kita dengan hal-hal yang tidak nyaman berupa kegagalan , kehilangan atau orang-orang yang membuat hati kita marah dan gelisah.”
Dia mendengarkan.
“Dulu waktu bunda seumur abang, bunda juga pernah punya teman dekat sekali. Bunda pikir persahabatan itu akan bertahan selamanya.”
“Lalu?”
“Lalu kami merenggang. Dan tidak pernah sedekat dulu lagi.”
“Sedih?”
“Sangat.”
“Dan itu terulang bahkan sampai sekarang” ujarku.
Aku tersenyum kecil mengingatnya.
“Dulu bunda juga berpikir kenapa harus terjadi. Kenapa orang yang baik bisa berubah. Kenapa harus kehilangan.”
Angin kembali datang membawa aroma sungai dan tanah basah sisa hujan tadi pagi.
“Tapi setelah bunda pikir-pikir lagi, bunda sadar sesuatu.”
“Apa, Bunda?”
“Tidak semua orang datang untuk tinggal selamanya.”
Ahmad diam.
“Ada yang datang untuk menemani. Ada yang datang untuk mengajarkan sesuatu.”
Dia menunduk melihat bungkus nasi di depannya.
“Maksud bunda?” tanyanya serius.
“Kadang orang yang menyakiti kita justru memaksa kita belajar.”
“Meskipun tidak semua hal, indah untuk dikenang, tetapi hampir semua hal punya peran untuk membentuk cara kita melihat hidup hari ini. Bahkan orang yang kita anggap “toksik” pun kadang meninggalkan pelajaran tentang ketegasan, harga diri, kesabaran, atau tentang pentingnya menjaga jarak.” ujarku serius.
Di kejauhan seekor burung melintas rendah di atas air.
“Tapi tetap sakit kan, Bunda.”
Aku menoleh padanya.
“Iya.”
Aku mengusap rambutnya pelan.
“Pelajaran yang baik tidak selalu datang dengan cara yang menyenangkan.”
Dia terdiam cukup lama.
Lalu tiba-tiba dia berkata,
“Berarti orang jahat juga penting?”
Aku tertawa pelan.
“Tidak begitu.”
“Lalu?”
“Mereka bukan penting.”
Aku tersenyum.
“Tapi kalau mereka sudah datang dalam hidup, ambil pelajarannya. Jangan pendam kebencian dengan mereka”
Dia berpikir beberapa saat.
“Tapi abang kadang menyesal, bunda. Selama ini baik dengan dia?” ujarnya serius.
“Penyesalan sering muncul karena kita ingin masa lalu yang selalu baik dan tanpa cela. ” jawabku serius.
Angin kembali meniup rambut Ahmad. Dia menatap sungai lama sekali. Seolah tatapannya membantunya mencerna dialog-dialog kami pagi ni.
“Bunda, Abang mulai mengerti.” cetusnya
Aku tersenyum.
“Tetapi ada hal juga yang harus dipahami, nak. Bahwa tak semua orang begitu. Beberapa orang disiapkan untuk menjadi sahabat sejati untuk kita” ujarku dengan perlahan sambil menepuk pundaknya.
Aku juga tak ingin dia menjadikan pengalaman buruknya dalam berteman menjadi trauma yang akan berdampak pada emosionalnya. Di usia tiga belas tahun, mungkin dia memang belum benar-benar mengerti. Tapi waktu tak pernah terburu-buru. Dia tidak meminta kita memahami semuanya sekaligus.
Hidup hanya meminta kita duduk sebentar di perhentian-perhentian, sejenak untuk merenung dan mengambil pelajaran. Seperti sungai yang kami nikmati panorama nya hari ini.
